Robot Ini Menyusun Rubik Lebih Cepat Dari Manusia

Robot yang bernama Cubestormer II, robot terampil ini sepenuhnya terbuat dari Lego, dengan peralatan Mindstorms NXT dan untuk otaknya dan kemampuan memproses, pembuatnya menggunakan smartphone Samsung Galaxy S II sejak pengembangan Android dibuka, sehingga lebih mudah membuat aplikasi yang dikustomisasi sesuai kebutuhan demi mengontrol mesinnya. Dengan menggunakan Bluetooth, S II berkomunikasi dengan prosesor ARM di peralatan NXT tersebut agar bisa mendapat solusi pemecahan rubik tersebut.

Dengan menggunakan kamera smartphone tersebut, Cubestormer II menganalisis wajah rubik lalu mencari cara memecahkan masalah rubiknya dan menginterpretasikan informasi yang diperoleh ke pergerakan robot. Saat proses tersebut, ponsel yang digunakan juga menggunakan OpenGL untuk menunjukkan gambar 3D dari kemajuan proses pemecahan rubik tersebut.

Dan berapa waktu yang diperlukan dari semua ini? 5,32 detik saja, di kejuaran dunia rubik yang diadakan minggu lalu, pemenangnya memecahkan rekor 7,68 detik, dan rekor dunia yang ada 5,66 detik. Bagaimana? Apakah kamu merasa robot semakin merasuk ke kehidupan manusia? Lihat video bagaimana robot ini beraksi:


sumber:http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11234841

Lebih 37 000 Pelarian Nigeria Memasuki Niger


NIAMEY – Lebih 37,000 penduduk Nigeria dilaporkan meninggalkan negara itu dengan memasuki negara jiran, Niger berikutan keganasan yang tercetus antara tentera dan gerila Boko Haram di utara Negara itu.

Angka terbaru itu didedahkan oleh Pejabat Hal Ehwal Kemanusiaan Pertubuhan Bangsa-Bangsa Bersatu (PBB) hari ini.

“Seramai 37,332 orang meninggalkan kawasan pertempuran di negeri Borno, Yobe dan Adamaoua di utara Nigeria. Mereka didaftarkan masuk di Diffa, di barat daya Niger”, kata PBB dalam satu kenyataan.

Angka pelarian yang memasuki Niger meningkat hamper enam kali ganda sejak Jun, sebulan selepas tentera Nigeria memulakan operasi memburu anggota gerila Boko Haram dengan menyaksikan ribuan terbunuh. – AFP

Zhang Xin Lebih Kaya dari Oprah Winfrey

Zhang Xin
Zhang Xin I foto dari berbagai sumber

Zhang Xin adalah salah salah satu wanita terkaya di dunia asal Cina dan Asia, Ia dulunya hanyalah seorang wanita biasa tapi kini telah menjadi orang yang luar biasa.

Terkenal dengan julukan Ratu properti, telah melalui masa hidupnya pasang surut tak ubahnya dengan kebanyakan wanita lainnya, yaitu hidup penuh penderitaan.

Lahir di Burma tahun 1965 sebagai imigran, Zhang Xin dan ibunya harus pindah ke Hong Kong ketika dia berumur 14 untuk mencari pekerjaan di pabrik-pabrik.

Lima tahun kemudian, Zhang bertinjauan menabung cukup uang untuk pindah ke Inggris dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Setelah selesai kuliah ia mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan di New York

Setelah bertugas di Wall Street di New York, mantan karyawan Goldman Sachs memutuskan untuk memanfaatkan peluang di Cina dan kembali ke Beijing.  Di sana, ia bertemu dengan suaminya Pan Shiyi dan mereka mendirikan SOHO China pada tahun 1995.

Kini Zhang Xin telah mencapai sukses yang luar biasa sebagai pengembang real estate asal China, menempati ranking ketujuh perempuan terkaya di dunia, yang mengumpulkan harta dengan kerja keras dan usaha sendiri, bukan warisan, versi Forbes. Pundi-pundi kekayaannya mencapai US$ 800 juta atau Rp 7,94 triliun. Melebihi yang dipunyai Oprah Winfrey yang terkenal di dunia sebagai triliuner dari kerja kerasnya sendiri.

Kendati kaya luar biasa, Zhang mengaku tidak hidup boros dan bahkan tidak ingin memanjakan anak-anaknya. Dia bahkan pernah mendesak salah satu putranya yang berusia 14 tahun untuk melamar kerja di McDonalds atau KFC. Putranya itu pernah mencoba, namun ditolak karena masih terlalu muda.

Ingatlah menjadi seorang millyuner atau trilliunan harus bekerja keras dan jangan tergiur dengan kaya secara instan. Tuh banyak iming-iming gaji sebulan bla bla bla di facebook. Piss dech.

Artikel dari berbagai sumber.

DAYA SAING YANG LEBIH SEHAT

Dalam rekomendasinya yang banyak diikuti oleh negara-negara pengekspor jasa kepariwisataan, WTTC mengingatkan bahwa industri ini akan tumbuh secara berkelanjutan, rata-rata sebesar 4,6% setiap tahunnya. Diperkirakan, pada akhir decade ini, seperempat milyar manusia akan menggantungkan hidupnya dalam industri pariwisata. Untuk menangkap peluang ini, WTTC merekomentasikan tiga hal. Pertama, pemerintah harus menempatkan pariwisata sebagai top priority dalam kebijakan perekonomiannya. Kedua, bisnis apa saja yang dikembangkannya, harus menjaga keseimbangan tiga hal: manusia, budaya dan lingkungan hidupnya. Dan ketiga, semua pihak harus mulai dapat diajak berpikir jangka panjang dan berorientasi pada kesejahteraan.

Dengan demikian, maka daya saing pariwisata suatu bangsa tidak dapat dibangun secara konvensional. Selain memikirkan pembangunan citra, promosi, slogan dan positioning statement yang hebat, dayasaing harus dibangun dengan memperhatikan pergeseran cara pengambilan keputusan berwisata yang sedang terjadi di mancanegara. Pertama, wisawatan tidak lagi bepergian dengan mengandalkan buku-buku wisata, melainkan melalui situs-situs yang terdapat di internet. Kedua, wisatawan yang berkualitas, tidak melulu memperhatikan harga, melainkan keselarasan ekologi dan perhatian pada lingkungan. Ketiga, teknologi dan infrastruktur memegang peranan yang sangat menentukan.

Di berbagai ruang pameran pariwisata terbesar dunia, sudah mulai biasa kita dengar pertanyaan-pertanyaan yang bunyinya agak lain. Wisman dari berbagai penjuru dunia itu tidak lagi bisa dibujuk dengan fasilitas kamar atau hotel yang bagus. Mereka justru menanyakan dengan tajam tiga hal berikut ini: Pengolahan limbah, sanitasi dan kebersihan dapur, serta perlakuan manajemen terhadap karyawan (apakah mereka punya ruang istirahat yang layak).

Tidak sulit untuk mempelajari dimana posisi Indonesia dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Data pada table 2 menunjukkan adanya keterkaitan antara kepariwisataan dengan indeks-indeks lain yang dikeluarkan oleh The World Bank, khususnya World Development Indicators, Human Development Index dan sebagainya. Saya coba sorting beberapa data yang dapat menjadi perhatian para pembuat kebijakan serta pelaku usaha, seperti human tourism index (mengukur kemajuan kesejahteraan manusia dari segi kepariwisataan), infrastructure index (mengukur akses terhadap fasilitas public dan pariwisata, fasilitas sanitasi, air minum), environment index (mengukur tingkat perhatian dan kemajuan yang dicapai dalam pelestarian alam, emisi CO2, dan sebagainya), Technology index (khususnya fasilitas telekomunikasi, internet, mobile phone), Openness (akses untuk masuk negara, perolehan visa, pajak-pajak konsumsi, perdagangan internasional), social index (penyajian keadaan masyarakat melalui media cetak, PC, televise, kantor polisi), dan human resources index (tingkat harapan hidup, angka buta huruf, pendidikan, pengangguran, pelatihan, ketrampilan, indicator gender).

Terlepas dari berbagai persoalan ekonomi yang masih mengikat kaki dan tangan bangsa ini sehingga sulit bergerak, index pada table 2 menunjukkan beberapa pekerjaan rumah yang dapat dengan segera diselesaikan. Kalau perubahan pariwisata kita dapat dikelola dalam sebuah program manajemen perubahan, maka perubahan itu harus dilakukan secara konseptual, terencana, bertahap, dan dimulai dari hal-hal kecil yang dapat segera memberi hasil besar. Human Resources, misalnya, selain mahal, butuh waktu yang panjang untuk menghasilkan. Demikian juga dengan teknologi, yang tidak mudah diperoleh oleh pemerintahan baru dalam sekejap. Tetapi teknologi bisa segera ditumbuhkan, manakala pelancong-pelancong berkualitas tinggi berdatangan dan menarik minat investor baru. Untuk itulah saya melirik pada human tourism index, environment index, openness index dan social index. Dari keempat index ini, yang paling mudah tentu saja openness index. Pemerintah kita bisa mulai dengan membuka akses yang lebih luas pada para wisatawan untuk masuk.

Sayangnya, sebuah pemerintahan biasanya cenderung populis dan keterbukaan dihasilkan dari tekanan kalangan menengah yang ingin bepergian ke luar negri, bukan sebaliknya. Dalam semangat kerjasama Asean, keterbukaan dilakukan untuk menghapuskan biaya fiscal, sementara pada saat yang sama diberlakukan visa on arrival yang menghambat arus wisatawan masuk ke negri ini. Bahkan dalam waktu dekat, di luar negri telah tersiar akan dikenakan biaya 911 di Bali yang besarnya hampir sama dengan biaya visa tadi.

Selain indeks keterbukaan, human tourism index juga dapat diterapkan dengan cepat. Di daerah Ubud (Bali) misalnya, partisipasi masyarakat dalam kepariwisataan begitu kuat sekali. Masyarakat melukis, menari, memainkan gamelan, memahat, dan menikmati hasil dari kesenian. Siangnya mereka bekerja di hotel, malamnya berkesenian. Tjokorda Raka Sukawati, putra raja Ubud yang dikenal sebagai undagi (arsitek tradisional) mengajarkan masyarakat berkesenian, seperti yang digagas oleh almarhum raja Ubud ketika mendatangkan pelukis-pelukis besar seperti Walter Spies, Antonio Blanco, atau Affandi untuk menetap di Ubud. Mereka diberi rumah di Ubud dengan syarat mengajarkan masyarakat melukis. Sejak itulah tradisi melukis masyarakat Ubud berubah, dari lukisan berbasis cerita Mahabrata menjadi lukisan kehidupan mereka sehari-hari. Tjokorda, selain dosen di Universitas Udayana ternyata juga seorang usahawan yang ulet. Hotelnya yang diwariskan oleh orangtua berkembang, dari Tjampuhan Resort (dimana terletak rumah peninggalan Walter Spies) lahirlah Pitamaha (boutique hotel), dan kini ia sedang membangun sebuah mahakarya yang disebutnya The Royal Pitamaha. Di situ semua penduduk kebagian hidup, berpartisipasi menikmati kesejahteraan dan menumbuhkan kesenian. Saya melihat tradisi seperti ini bukanlah hal yang sulit dibangun pada daerah-daerah kunjungan wisata Indonesia. Apakah di Ubud, Bunaken, Pulau Penyengat, Nias, Mentawai, atau Danau Toba. Tradisi kebersamaan bisa dibangun dengan menjaga keunikan masing-masing, asalkan jelas arah dan strateginya.

Sebagai penutup, saya ingin mengajak para pemimpin untuk tidak mengabaikan pariwisata, melainkan ia dapat dijadikan prioritas yang penting dengan biaya yang tidak terlalu mahal. Pariwisata bebas polusi, membuat bangsa ini lebih murah senyum, hidup lebih demokratis, dan tentu saja lebih sejahtera. Tanpa memperhatikan factor-faktor pembentuk daya saingnya, industri pariwisata ini akan memasuki era gawat, yang saya sebut S.O.S.

Manusia Penghuni Kutub Punya Otak dan Bola Mata Lebih Besar

Penelitian terbaru menunjukkan orang yang hidup di daerah kutub mempunyai bola mata dan otak yang lebih besar.

Peningkatan ukuran otak dan mata ini memungkinkan seseorang melihat lebih baik dari pada mereka yang tinggal di katulistiwa.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjYz-b-bGs73x_NHm9XSaOS9Zk4s-9Ph8ClaPKNNuwcatjWn8sc59h91uI0V5HRY1IClGfdAiZGba2WbU5lxI3RyiJLHrWfg7CIzn10tV8EwdjkiPK32jKCGUXqhn6VePJtvkE4dxK16w/s1600-r/eskimo-family.jpg

"Seseorang yang tinggal di daerah kutub akan memiliki bola mata 20 persen lebih besar dari mereka yang tinggal di equator," kata Kepala Institute of Cognitive & Evolutionary Anthropology Universitas Oxford, Robin Dunbar seperti dilansir laman Discovery News.

"Orang yang tinggal di garis lintang tinggi mempunyai aktivitas visual yang lebih tinggi dari pada yang tinggal di sekitar equator," tambah Dunbar.

"Intinya, mereka memiliki penglihatan lebih baik untuk mengatasi tingkat pencahayaan yang kurang di daerah garis lintang tinggi."

Untuk penelitian ini, Dunbar dan koleganya, Eiluned Pearce meneliti 55 individu dari 12 populasi berbeda.

Penelitian ini difokuskan pada volume dan kapasitas tengkorak. Individu yang diteliti merupakan orang yang hidup pada 200 tahun lalu dan tengkoraknya menjadi koleksi Museum Universitas Oxford.

Penelitian menemukan hubungan yang signifikan antara garis lintang dengan volume otak. Otak terendah dimiliki oleh jenis Micronesia yang banyak tinggal disekitar garis katulistiwa dengan berat otak 40,6 ons.

Sedangkan otak yang lebih besar dimiliki jenis Scandinavia yang banyak tinggal di sekitar kutub dengan berat 50,2 ons.

Tengkorak warga penghuni Kutub Utara tidak dimasukkan, tapi peneliti membuat perkiraan 20 persen lebih besar berdasarkan data yang mereka punya.

Namun, para peneliti dengan cepat mengatakan volume otak ini tidak terkait dengan tingkat kecerdasan.
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/14/Eskimo_Family_NGM-v31-p564-2.jpg

"Intinya, yang kami maksudkan orang memiliki otak lebih besar pada orang yang tinggal di garis lintang tinggi, bukan berarti mereka lebih cerdas. Ini hanya berarti mereka memiliki peningkatan volume otak yang digunakan untuk penglihatan dan ini telah meningkatkan ukuran otak secara keseluruhan," kata Pearce.

Bola mata yang lebih besar memungkinkan gambar yang jatuh ke daerah photoreceptor lebih kecil sehingga lebih jelas untuk membedakan.

Jumlah pencahayaan di bumi semakin menurun seiring peningkatan garis lintang. Sehingga, orang-orang yang tinggal di daerah garis lintang tinggi perlu meningkatkan penglihatan.


Sumber :
vivanews.com